Paket Cahaya Pondok

Menyalakan Pelita di Sudut Asrama: Dukung Perjuangan Santri Melalui Paket Cahaya Pondok Pesantren

Di balik dinding rapuh pondok pesantren di pelosok negeri, ada doa-doa kecil yang tak pernah putus. Ada ribuan santri yang sedang berjuang dalam diam. Mereka bukan hanya menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an, tetapi juga menahan dingin, lapar, dan keterbatasan yang tak seharusnya ditanggung oleh anak-anak seusia mereka.

Di Yayasan Adhanul Amal Nusantara, kami melihat langsung keteguhan itu. Santri-santri kecil yang tidur beralas lantai keras, berbagi ruang sempit, dan mengisi hari dengan belajar meski perut sering kali belum terisi sempurna. Mereka kuat—namun bukan berarti mereka tidak membutuhkan uluran tangan.

Mengapa Fasilitas dan Pangan Begitu Penting?
Tak mudah menghafal kalam Allah ketika tubuh gemetar menahan dingin atau pikiran terganggu oleh rasa lapar. Seorang santri seharusnya fokus pada ayat yang ia jaga, bukan pada bagaimana caranya bertahan. Melalui Paket Cahaya Pondok Pesantren, kami ingin memastikan perjuangan mereka tidak semakin berat hanya karena hal-hal mendasar yang luput dari perhatian.

Program ini berdiri di atas dua pilar utama:

 

Fasilitas yang Memanusiakan
Masih banyak asrama santri yang atapnya bocor, lantainya dingin, dan sanitasi yang jauh dari kata layak. Donasi Anda menjadi harapan baru—untuk memperbaiki atap yang bocor, menghadirkan alas tidur yang pantas, serta menyediakan MCK yang bersih agar kesehatan mereka tetap terjaga.

Pangan Bergizi (Nutrisi Penghafal Al-Qur’an)
Hafalan membutuhkan kekuatan. Otak dan tubuh mereka memerlukan asupan gizi yang cukup. Kami menyalurkan bahan pangan pokok seperti beras, telur, dan protein hewani agar para santri bisa belajar dengan tenaga yang utuh, bukan dengan sisa-sisa kekuatan.

Kisah dari Bilik Bambu: “Mimpi di Atas Lantai Dingin”

Namanya Ahmad. Usianya baru 11 tahun. Mimpinya sederhana namun mulia: menghadiahkan mahkota surga untuk kedua orang tuanya. Setiap malam, Ahmad tidur di lantai semen yang dingin, hanya beralas tikar tipis. Ketika hujan turun, udara lembap dan bau tanah masuk dari celah dinding bambu yang berlubang.

Pagi hari, Ahmad sering sarapan dengan nasi putih dan garam. Tak ada lauk, tak ada keluhan. Ia hanya tersenyum, merapikan mushafnya, lalu duduk bersila menunggu giliran setoran hafalan.

“Tidak apa-apa, Kak,” katanya pelan, “yang penting hafalannya tidak hilang.”

Hati siapa yang tak tergerak?
Tidakkah kita ingin menjadi bagian dari cerita di mana Ahmad bisa tidur lebih hangat, makan lebih layak, dan menghafal Al-Qur’an dengan senyum yang lebih tenang?

Satu kebaikan Anda hari ini bisa menjadi cahaya besar dalam hidup mereka—cahaya yang terus mengalir hingga akhirat.